Labels

Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 29 September 2014

HASIL PELATIHAN SATRIA NUSANTARA BERDASARKAN HASIL PENELITIAN

Kebenaran suatu ilmu tidak hanya cukup dibicarakan. Selain dirasakan manfaatnya secara langsung, perlu pula dicari kebenaran dan pengembangannya melalui percobaan dan penelitian sehingga hasilnya berupa fakta tak terbantahkan, bukan sekedar teori dan konsep yang dapat dibantah teori lain.
Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan ilmu Satrian Nusantara dan dilakukan oleh para ahli/pakar di bidangnya masing-masing adalah sebagai berikut :
1.            dr. Noviar, DSKO (Fakultas Kedokteran UI)
         Dalam rangka tesis S-2, beliau mengadakan penelitian tentang pengaruh pelatihan Satria Nusantara terhadap kesegaran jasmani (diwakili pengukuran VO2MAX sebesar 19,8% dan sangat bermakna (p=0,00) selama 3 bulan pelatihan. Ini membuktikan pelatihan ilmu Satrian Nusantara secara nyata mampu meningkatkan kesegaran jasmani yaitu meningkatkan daya tahan kerja jantung-paru, pembuluh darah dan otot-otot mayoritas.
2.            Prof. DR. Abdul Razak Thaha, dkk. (SP3T Sul-Sel dan Fakultas Kedokteran UNHAS Makassar)
         Penelitian dilakukan untuk melihat manfaat pelatihan Pradasar selama 12 hari. Hasil penelitian menunjukkan:
1.      Berat badan peserta menurun menuju normal.
2.      Meningkatkan kekuatan kontraksi otot, terutama otot tungkai, tangan, dada, punggung dan pinggang.
3.      Meningkatkan kemampuan ventilasi paru.
4.      Menurunkan lemak tubuh terutama otot perut dan triseps.
5.      Meningkatkan efisiensi kerja kardiovaskular yaitu menurunnya denyut jantung dan tekanan darah sistolik.
3.            Prof. dr. Giriwijoyo YSS., Dkk. (FPOK IKIP Bandung)
         Meneliti pengaruh pelatihan Satria Nusantara terhadap tekanan darah dan denyut nadi istirahat.
         Hasil penelitian menunjukan tekanan darah menuju normal dan denyut nadi istirahat menurun.
4.            Muchtamadji M. A. Dkk. (FPOK IKIP Bandung)
         Meneliti pengaruh pelatihan Satrian Nusantara terhadap kapasitas vital paru dan kemampuan menahan nafas.


5.            DR. Suhartono TP, dkk. (Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya)
         Meneliti pengaruh pelatihan Satrian Nusantara terhadap daya tahan stres dan imun (kekebalan). Dengan melihat kandungan kadar hormon anti stres ACTH dan hormon kortisol anggota Satria Nusantara dibandingkan kelompok lain (kontrol).
         Beda kadar hormon anti stres ACTH dan hormon Kortisol pretest  dan postest hasil penelitian sebagai berikut :
Kelompok
ACTH
Kortisol
Satria Nusantara
7,526 + 11,79
1,610 + 2,37
Kontrol
-3,020 + 6,58
0,454 + 2,33
Uji statistik menunjukan adanya perbedaan nyata (p<0,05). Penelitian ini membuktikan:
1.      Peningkatan hormon anti stres ACTH yang lebih besar pada anggota Satria Nusantara, menunjukan anggota Satria Nusantara mempunyai daya tahan yang lebih tinggi terhadap stres sehingga lebih sabar dan lebih bisa mengendalikan diri.
2.      Peningkatan hormon Kortisol pada batas tertentu menunjukan anggota Satria Nusantara memiliki imunitas (kekebalan tubuh) yang lebih baik terhadap penyakit. Jumlah hormon kortisol yang cukup banyak juga cenderung menimbulkan suasana ceria dan gembira (Happy).
6.            Prof. DR. Abdul Razak Thaha, dkk. (SP3T Sul-sel dan Fakultas Kedokteran UNHAS Makassar)
         Meneliti perbedaan keadaan psikis/kejiwaan antara berbagai Tingkatan Penguasaan Jurus dengan variabel : skala anxietas, manifest anxietas, caudality, ketergantungan, hipokondri, depresi, histeria, dan psikistenia, menggunakan metode : MMPI (Minnesota Multiphasic Personality Inventory) adaptasi untuk orang Indonesia oleh Rudy Salam (1989).
         Hasil penelitian menunjukan :
1.      Terdapat perbedaan skor yang bermakna antara kelompok Tingkatan Jurus pada Variabel diatas.
2.      Skor pada Variabel semakin menurun dengan semakin tingginya Tingkatan Jurus hal ini membuktikan semakin tinggi Tingkatan Jurus berarti semakin stabil emosinya dan percaya dirinya lebih besar.
7.            DR. Sulistyawati dkk. (LAB. P4K-TD Departemen Kesehatan di Surabaya)
Meneliti tentang pengaruh pelatihan Satria Nusantara terhadap penderita diabetes militus (penyakit gula)
Hasil penelitian menunjukkan :
1.      Kadar gula menurun
2.      Gejala Neuropathi membaik sampai 60%
Meneliti tentang pengaruh Satria Nusantara terhadap penderita Lepra.
Hasil penelitian menunjukkan :
1.      Jumlah luka berkurang
2.      Fungsi syaraf (perasa) meningkat
3.      semangat hidup dan percaya diri penderita meningkat
8.            Prof. DR. Abdul Razak Thaha, dkk. (SP3T Sul-sel dan Fakultas Kedokteran UNHAS Makassar)
Meneliti pengaruh pelatihan Satria Nusantara intensif 7 hari dan rutin 4 minggu terhadap : kadar kolesterol total, kadar HDL, dan LDL, rasio HDL/LDL, trigliseride, berat badan dan indeks masa tubuh.
Hasil penelitian menunjukan :
1.      Penurunan berat badan menuju normal
2.      penurunan indeks masa tubuh
3.      pelatihan intensif 7 hari mempunyai dampak bermakna terhadap :
a.       Penurunan kadar kolesterol darah total
b.      Peningkatan kadar HDL darah
c.       Penurunan kadar LDL darah
d.      Peningkatan rasio HDL/LDL darah
e.       Penurunan kadar trigliseride darah
4.      Pelatihan rutin 4 minggu dengan pengawasan ketat memiliki dampak bermakna terhadap :
a.       penurunan kadar kolesterol darah total
b.      penurunan kadar trigliseride darah
c.       mempertahankan kadar normal HDL dan LDL darah serta rasio HDL/LDL
9.            DR. Hariadi, dkk. (LAB. P4K-TD Departemen Kesehatan di Surabaya)
Menggunakan kamera radiasi termal inframerah mengukur adanya gelombang inframerah intentesitas tinggi pada telapak tangan anggota Satria Nusantara (bertenaga dalam)
Juga terlihat perbedaan titik-titik panas pada telapak tangan apabila :
a.       Anggota berniat hanya sekedar mengkonsentrasikan tenaga di telapak tangan. Titik-titk panas lebih banyak di telapak tangan.
b.      Anggota berniat memancarkan tenaga. Titik-titik panas agak menyebar keluar selain di telapak tangan.
10.        DR. Sunarko, dkk. (Fakultas Kedokteran UNAIR Surabaya)
Meneliti tentang pengaruh pemaparan/pemancaran tenaga dalam terhadap tikus.
Hasil penelitian menunjukkan tikus-tikus yang dipancari  tenaga dalam dibanding yang tidak dipancari (kelompok kontrol) mengalami hal-hal sebagai berikut :
a.       Sel darah merah dan hormon kortisolnya lebih banyak.
b.      Respon biologik berupa memakan makanan meningkat (makanan dan yang dimakan lebih banyak).
c.       Berat badan jantung dan tulangnya lebih berat.
d.      Sel ginjal dan hepar tetap sama (hal ini menunjukan bahwa pancaran tenaga dalam tidak bersifat meracuni).
11.        DR. Hariadi, dkk. (LAB. P4K-TD Departemen Kesehatan di Surabaya)
Menggunakan alat corona menghasilkan foto kirlian untuk mendeteksi penyakit seseorang melalui foto tiga jari tengahnya. Pada saat diadakan penghusadaan, dilihat loncatan korona pada tiga jari tengah pasien. Ternyata ada perubahan/perbedaan sebelum diobati, sedang diproses penghusadaan (perubahan sangat aktif) dan sesudah selesai penghusadaan. 
Tujuan  latihan Seni Pernafasan Satria Nusantara adalah :
a)   Membantu upaya anggota dalam pemperoleh kesembuhan dari derita penyakit baik fisik maupun non fisik , dengan cara aktif maupun pasif
b)  Mengusahakan agar anggota dapat menguasai program pelatihan seni pernafasan yang telah ditetapkan sesuai dengan tingkatan masing – masing.
c)    Mengarahkan dan meningkatkan kesadaran anggota dalam pengamalan ibadah, serta menjunjung tinggi aqidah , sehingga menjadi manusia beriman, taqwa serta bermental tauhid.
d)    Ikut menggalang persatuan dan kesatuan yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan .
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas anggota,perlu mengetahui dan mempraktekkan dengan benar sesuai dengan keilmuan SN dan program latihan yang sudah tersusun didalam kurikulum muatan tetap dan kurikulum muatan lokal.
Adapun pola latihan yang harus dipahami agar bisa dipraktekkan dengan baik oleh anggota adalah sebagai berikut.
Ada 3 ( tiga ) hal pokok yang di olah dan dikembangkan dalam mempelajari ilmu Satria Nusantara ,yaitu : nafas,gerak, dan kosentrasi / jiwa.
Manuasia teramat sangat tergantung akan oksigen untuk metabolisme sel tubuhnya. Untuk mendapatkan oksigen , manusia butuh bernafas . Jadi sebenarnya nafas adalah inti kehidupan! .sayangnya manusia sangat jarang mau melatih sel, jaringan dan tubuhnya untuk pintar mencari dan menggunakan oksigen seefesien mungkin . Padahal barang siapa yang dapat menguasai nafasnya dengan baik , hakekatnya ia mampu menguasai kehidupannya dan tidak perlu takut sakit.
Bernafas biasa tentu saja berbeda dengan bernafas untuk sehat dan bugar . Bernafas biasa dilakukan secara refleks, otomatis. Sedangkan bernafas untuk  tujuan meningkatkan derajat kesehatan ,swahusada  ( penyembuhan diri sendiri ) dikerjakan secara sadar dan teratur.
Gerak adalah ciri – ciri kehidupan. Alam semesta belum akan kiamat bila bintang dan planet masih bergerak pada poros dan lintasannya . Manusia dikatakan hidup selama jantung ,paru dan darahnya masih bergerak  . Artinya , semakin malas seseorang bergerak semakin dekat pula ia kepada kematian yaitu diam yang abadi. Sebaliknya ,semakin cinta seseorang  akan gerak semakin hiduplah dia.
Jiwa adalah pengendali kehidupan. Kalau dulu sering kita mengakui kebenaran perkataan : “ dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula “, sekarang sudah saatnya perkataan itu direformasi menjadi : “ dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat pula “.  Sudah banyak penelitian menunjukkan bahwa perubahan seseorang akan mempengaruhi kerja syaraf pusat, selanjutnya berpengaruh pula pada daya tahan dan organ tubuh. Hampir semua penyakit modern timbul diakibatkan penyebab dari dalam diri sendiri , seperti psikosomatis, malas bergerak,nafsu makan berlebihan dan lain – lain.
Motifasi hidup sehat dan bugar perlu direnofasi tidak hanya dalam bentuk sekedar slogan kosong . Motifasi hidup sehat dan bugar harus dimulai dari dalam jiwa masing – masing individu.sehat itu enak! Sehat itu nikmat ! Sehat itu indah!.  Tanpa landasan sehat ,tiada berarti segalanya. Untuk itu perlu ikhtiar !
MARI KITA RENUNGKAN BERSAMA
Manusia sehat dan bugar adalah manusia yang sejahtera dan seimbang secara berlanjut dan penuh berdaya guna serta berkemampuan tinggi. Dengan kemampuan itu ia  dapat menghasilkan peningkatan dan pengembangan kualitas hidupnya seoptimal mungkin. Artinya, ia memiliki kesempatan yang lebih luas untuk memfungsikan diri sebaik-baiknya untuk beribadah dan beramal shaleh sehingga menjadi rahmat bagi masyarakat dan lingkungannya.
Hidup sehat dan bugar merupakan hajat manusia yang paling penting, karena hidup sehat dan bugar selain dapat menghantarkan kepada taraf kehidupan yang lebih baik dan sejahtera, juga merupakan bagian prasyarat kesempurnaan ibadahnya (nikmat setelah iman). Kesehatan memang bukan segalanya, tetapi tanpa kesehatan tiada gunanya segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita.
Tidak ada orang kaya kalau sudah sakit. Tidak ada orang pintar kalau sudah sakit. Tidak ada suami/isteri yang baik kalau sudah sakit. Tidak ada pekerja yang baik kalau sudah sakit. Tidak ada namanya ulama kalau sudah sakit. Dan tidak ada ibadah yang baik kalau sudah sakit.
Oleh karena itu, manusia wajib berikhtiar dan berusaha memperbaiki, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya terus menerus, dalam arti memperkuat daya tahan terhadap serangan penyakit dan mencegah timbulnya penyakit oleh berbagai sebab, baik dalam diri maupun dari luar. Hidup sehat mencakup aspek yang harmonis dan seimbang, yang berhubungan dengan pola pikir, pola makan, pola lingkungan, pola istirahat dan olah raga.
Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, pasti telah mengaruniai pula kemampuan menolak penyakit, juga mekanisme untuk mengatur dan menyembuhkan dirinya sendiri. Manusia semestinya dipandang secara utuh, kesatuan yang kompleks dari unsur fisik, jiwa/mental, faktor genetik dan sosial. Oleh sebab itu, perlu kiranya di masa sekarang dan mendatang mendapat perhatian lebih besar.
Pelatihan Ilmu Satria Nusantara hanyalah sekedar menjalankan mekanisme Sunnatullah  penyembuhan alami yang bertujuan merangsang agar tubuh dan jiwa menyembuhkan diri dengan menyeimbangkan semua unsur yang ada dalam diri sekaligus dapat meningkatkan kemampuannya.
Berdasarkan pengalaman selama ini, peserta pelatihan Satria Nusantara berumur 10 – 86 tahun. Semua bisa mengikuti dengan baik sesuai latar belakang jenis kelamin, umur dan tingkat kesehatan. Artinya Seni Pernapasan ini memang cocok dan sesuai menjadi olah raga keluarga yang efektif dan efisien agar menyehatkan seluruh keluarga lahir dan batin. Yaitu sehat dan bugar secara fisik serta memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, kestabilan emosi dan percaya diri.
Setiap yang bernyawa pasti akan mati, tetapi janganlah memilih sakit-sakitan dan mati-matian sebelum mati…!
Menjadi tua adalah pasti, tetapi janganlah memilih lewat jalan tol, Tuhan memberi kita jalan Alternatif melewati jalur lambat.
Orang itu sakit karena ia sendiri yang mau sakit, jangan salahkan pihak lain. Kalau kita tidak ingin sakit, insya Allah tidak akan sakit karena kita diberi kesempatan dan ilmu untuk berikhtiar. (Sunnatullah)
Ilmu Satria Nusantara, seperti halnya aliran lain, adalah ilmu praktis yang harus dikerjakan untuk diri sendiri masing-masing secara individual. Hanya yang rajin berlatih aktif dan benar mengolah dirinya, yang akan memperoleh manfaatnya. Manfaat terbesar semestinya didapatkan oleh guru, pelatih, pengurus karena beliau-beliaulah yang paling banyak makan ilmunya sehingga seharusnya dapat memberikan contoh manfaat yang terbaik, Insya Allah !

2 komentar:

 

Counters

Follow by Email